Jumat, 02 September 2011

Ini Dia, Kampusnya Para Presiden RI

JAKARTA | ACEH MINUTES - Seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi anak buahnya. Terutama para presiden Indonesia dengan segala usahanya untuk memajukan nusantara di tingkat dunia. 
Segala tindakan dan upaya yang mereka lakukan demi kemajuan bangsa, tidak terlepas dari pendidikan yang mereka dapatkan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Kali ini, kamu akan diajak secara khusus untuk mengenal lebih dekat masa kuliah orang nomor satu di Indonesia ini.

1. Soekarno
Presiden pertama Indonesia ini meraih gelar Insinyur (Ir) dari Technische Hoge School yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1926 silam.

2. Soeharto
Pria yang menjabat sebagai presiden RI selama 31 tahun ini mengawali pendidikannya di SD Desa Puluhan ketika usianya delapan tahun. Kemudian, dia dipindahkan ke SD Pedes Yogyakarta.

Setelah lulus Sekolah Rendah (SR) selama empat tahun, ayah dari enam orang anak ini melanjutkan sekolah ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Namun, di usianya yang menginjak 14 tahun, dia melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah Yogyakrta.

Pria yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 tersebut tidak pernah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi lantaran orangtuanya tidak memiliki biaya. Lantas, pada 1940, Soeharto melanjutkan pendidikannya di bidang kemiliteran. Pria yang tutp usia pada 27 Januari 2008 ini pun resmi bergabung dengan TNI pada 5 Oktober 1945.

3. BJ Habibie
Presiden dengan masa jabatan tersingkat ini mengenyam pendidikan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, baru satu tahun menempuh pendidikan di kampus tersebut, dia melanjutkan pendidikannya ke Technische Hochschule, Jerman.

Pria kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 ini pun mendapatkan gelar Diploma dan Doktor dari institusi tersebut pada 1960 dan 1965.

Penerima penghargaan Theodore van Karman Award ini, mendalami kuliah bidang konstruksi pesawat terbang dan meraih predikat Summa Cum Laude. Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Ristek) ini pun dinobatkan sebagai Guru Besar (Gubes) di ITB pada 1967.

4. Abdurrahman Wahid
Pria kelahiran Jombang, 4 Agustus 1940 ini mengawali pendidikan tingginya di Al-Azhar University, Kairo, Mesir melalui program beasiswa yang diberikan oleh Kementerian Agama RI pada 1964 hingga 1966.

Tidak puas dengan metode pendidikan yang diajarkan universitas Al-Azhar, Gus Dur sapaan akrab ayah empat orang putri ini kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Baghdad, Irak. Mahasiswa Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab ini, berhasil meraih gelar sarjana pada 1970.

Gusdur pun berniat melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, Belanda. Sayangnya, pendidikannya selama di Universitas Baghdad kurang diakui oleh Negara Tulip tersebut.

5. Megawati Soekarnoputri
Satu-satunya presiden wanita di Indonesia ini merupakan mahasiswi Universitas Padjajaran (Bandung) dalam bidang pertanian. Namun, karena kondisi politik saat itu tidak kondusif, maka keluarga presiden (Soekarno) harus diungsikan. Hal ini mengakibatkan pendidikan wanita kelahiran Yogyakarta, 23 Januari 1947 ini terpaksa terhenti.

Megawati pun kembali melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil jurusan Psikologi. Namun, pendidikannya kali ini pun juga tidak selesai.

6. Susilo Bambang Yudoyono (SBY)
Pria kelahiran Pacitan, 9 September 1949 ini memiliki latar belakang pendidikan yang cukup panjang mulai dari dalam maupun luar nageri, yakni :

- Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
- American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
- Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
- Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
- On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
- Jungle Warfare School, Panama, 1983
- Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984
- Kursus Komando Batalyon, 1985
- Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
- Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, AS
- Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
- Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 2004 (okezone)

Sergio Ramos Balas Kritikan Presiden Sevilla

MADRID | ACEH MINUTES - Punggawa Real Madrid, Sergio Ramos, tak terima dengan kritikan pedas dari Jose Maria Del Nido seputar kompetisi La Liga Spanyol yang hanya dikuasai duopoli Los Blancos dan Barcelona.

Melihat dominasi dua raksasa itu yang begitu kentara sejak pekan pembuka kampanye 2011/12, di mana Madrid melumat Real Zaragoza 6-0 dan Barca memukul Villarreal 5-0, Del Nido tak sungkan-sungkan melontarkan kecaman.

Adakah fans yang tak mengatakan bahwa liga ini telah dilacurkan, diperdagangkan, dan dikorupsi Turnamen kami bukan hanya lelucon terbesar di Eropa, tapi juga di dunia, tukas presiden Sevilla itu.

Ini adalah liga dunia ketiga di mana dua klub mengambil jatah uang hak siar televisi klub-klub lain, imbuhnya.

Menyikapi pernyataan bernada ketidakpuasan dari Del Nido, Ramos pun mempersilakan Del Nido membawa klubnya hijrah ke liga negara lain.

?Bila dia tak menyukai La Liga, kenapa dia tidak mencari liga lain bagi klubnya untuk bermain Kami cukup puas dengan kompetisi saat ini,? balas Ramos dikutip EFE.

Di jornada 1 La Liga 2011/12, Sevilla menduduki peringkat kelima berkat kemenangan tipis 2-1 atas tim kaya baru Malaga.(Metronews.com)

[Jelang Iran vs Indonesia] Rijsbergen Janjikan Perlawanan Sengit

Wim Rijsbergen
TEHERAN | ACEH MINUTES - Pelatih timnas Indonesia, Wim Rijsbergen, menegaskan bahwa pasukannya akan berjuang semaksimal mungkin saat bertemu Iran. Meski lawan lebih diunggulkan, dia tetap menjanjikan perlawanan sengit.

Indonesia akan dijamu Iran di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia, Jumat (2/9/2011) malam WIB. Laga perdana di Grup E itu akan digelar di Azadi Stadium, Tehran.

Dengan materi pemain yang mereka miliki, Iran lebih diunggulkan. Apalagi, skuad asuhan Carlos Queiroz itu akan bermain di hadapan puluhan ribu pendukungnya sendiri. Meski begitu, Rijsbergen tak mau menyerah begitu saja.

"Kesan pertama ketika mendapat kabar drawing grup, saya pikir Iran adalah yang terkuat di grup ini dan memiliki sejarah timnas yang baik. Saya juga mengenal pelatihnya. Jelas bersama dia, Iran potensial untuk menjadi lebih baik. Namun, kami datang ke sini tidak untuk memberi kalian tiga poin begitu saja. Kami akan memberi perlawanan sengit," ujar Rijsbergen dalam rilis yang diterima detikSport.

"Pertandingan nanti akan sangat sulit. Saya baru dua bulan melatih timnas Indonesia dan kini kami berada di peringkat 131 dunia. Inilah saat terbaik bagi tim untuk melihat sejauh mana kualitas permainan mereka di dunia dan jelas ini akan menjadi materi pembelajaran untuk ke depannya. Semoga kami berhasil mengambil poin dalam pertandingan nanti," harapnya.

Rijsbergen juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengkhawatirkan teror dari suporter tuan rumah.

"Jelas tuan rumah akan memetik keuntungan dari pemain ke-12, selalu seperti itu. Begitu juga dengan di Indonesia, kami memiliki stadion sangat indah dengan suporter luar biasa yang memenuhi stadion," kata pria asal Belanda ini.

Dalam pertandingan kontra Iran, Indonesia tak akan bisa menurunkan Boaz Solossa, Ahmad Bustomi, dan Muhammad Nasuha. Boaz tengah menyelesaikan masalah keluarganya di Papua, Bustomi cedera, sedangkan Nasuha terkena akumulasi kartu.

"Ada satu pemain bagus kami yang sayang sekali tidak bisa tampil nanti karena akumulasi kartu, dan sisanya tidak ikut ke Iran. Namun pemain yang kami bawa ke sini juga merupakan materi terbaik. Lihat saja nanti hasilnya seperti apa," jelas Rijsbergen.(detik.com)

[Jelang Iran vs Indonesia] Queiroz: Indonesia Lawan Terberat

Carlos Queiroz
TEHERAN | ACEH MINUTES - Pelatih Iran, Carlos Queiroz, menyebut Indonesia sebagai tim yang berbahaya dan merupakan lawan terberat. Pria asal Portugal ini pun berharap suporter Iran bisa membantu timnya menang.

Di atas kertas, Indonesia adalah tim yang paling tidak diunggulkan di antara negara-negara yang menghuni Grup E di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Berdasarkan rangking FIFA, tim 'Merah Putih' memang menghuni urutan paling rendah dibandingkan Iran, Qatar, dan Bahrain.

Namun, Queiroz tak terlalu memikirkan hal-hal tersebut. Baginya, Indonesia tetaplah lawan yang paling berat.

"Indonesia saat ini adalah lawan terberat di grup, karena lawan pertama kita adalah mereka, bukan Qatar atau Bahrain atau Brasil atau Argentina. Saya tidak peduli dengan mereka. Saat ini yang berpeluang untuk mengambil poin dari kita adalah Indonesia," kata Queiroz dalam rilis yang diterima detikSport.

"Saya sudah lihat rekaman pertandingan mereka dan mendapat laporan hasil scouting. Mereka bermain bagus dan menyerang. Apalagi, tidak seperti kita yang terlambat mempersiapkan diri karena liga masih berjalan, mereka memiliki banyak waktu untuk fokus di timnas," tambah mantan asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United ini. 

"Mereka adalah tim berbahaya. Karena itu, saya harap fans dan pers datang besok ke stadion untuk membantu kita menang. Kita semua butuh menang besok," pungkas dia. (detik.com)

[Jelang Iran vs Indonesia] Bepe: 'Merah Putih' Datang Bukan untuk Kalah

TEHERAN | ACEH MINUTES - Bambang Pamungkas mengakui bahwa Iran adalah tim yang kuat. Tapi, kapten timnas Indonesia ini menegaskan bahwa dia dan rekan-rekannya datang bukan untuk menelan kekalahan.

Indonesia akan menjalani laga perdana putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia pada Jumat (2/9/2011). Tim Garuda akan dijamu Iran di Azadi Stadium, Tehran.

"Iran adalah tim kuat, tapi kami datang ke sini bukan untuk kalah. Kami datang untuk mendapatkan poin," cetus Bambang dalam rilis yang diterima detikSport. 

"Kita lihat saja di 90 menit pertandingan nanti. Tim terbaiklah yang akan menang. Jelas kami akan berusaha untuk mendapat hasil terbaik," tegas penyerang yang akrab disapa Bepe ini.

Bepe mengakui bahwa situasi persepakbolaan Iran lebih baik daripada Indonesia. Namun, dia tetap berharap Indonesia suatu saat nanti bisa menyamai level negara Timur Tengah itu.

"Sulit untuk membandingkan Iran dengan kami. Iran memiliki liga yang stabil, sementara kami tengah dalam masa transisi untuk membuat liga baru dengan kepengurusan federasi yang baru untuk menuju sepakbola yang lebih baik," ujar pemain Persija Jakarta ini.

"Tahun 1938 kami pernah berlaga di Piala Dunia. Akan ada saatnya lagi dimana nanti hasil dari masa transisi ini yang akan membawa kami menjadi salah satu tim kuat Asia," tandasnya (detik.com)