Rabu, 07 September 2011

MPR Usulkan Munir Jadi Pahlawan Nasional

JAKARTA | ACEH MINUTES - Memperingati 7 tahun kematian Munir, MPR ingin pemerintah memberikan penghormatan. MPR menilai gelar pahlawan nasional layak diberikan untuk Munir.

"Kami meminta pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional untuk Munir. Kami menilai Munir sudah amat layak menjadi pahlawan nasional sebagai apresiasi negara atas perjuangannya," ujar Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saifuddin.

Hal ini disampaikan Lukman kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (7/9/2011).

Pengakuan pemerintah dirasa penting. Utamanya dalam menghargai perjuangan Munir memperjuangkan HAM.

"Memberikan pengetahuan generasi yang akan datang besarnya jasa Munir. Kita diingatkan bahwa perlindungan hak asasi manusia diperjuangkan kalau perlu kehilangan nyawa seperti Munir," papar politisi senior PPP ini.

Ia berharap usulan ini dapat diterima. Sebagai bentuk penghargaan negara terhadap perjuangan HAM.(detik.com)

Jaksa Agung: Kasus Munir Sudah Tuntas

JAKARTA | ACEH MINUTES - Hari ini tepat 7 tahun tewasnya aktivis HAM, Munir Said Thalib. Namun siapa pembunuhnya, tak juga terkuak. Kasus ini makin gelap karena Kejaksaan Agung (Kejagung) menyebut penanganan kasus tersebut sudah optimal dan tuntas.

"Sebagaimana Saudara-saudara sudah ketahui kasus Munir, Kejaksaan sebetulnya kalau ditanya keseriusan, sudah sangat serius. Karena berkas perkara yang disampaikan oleh penyidik pada Kejaksaan itu sudah tuntas. Artinya sudah dilakukan penyelesaian kepada persidangan, sampai kita memberikan kekuatan hukum yang tetap," ujar Jaksa Agung Basrief Arief kepada wartawan di Kantor Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu (7/9/2011).

"Jadi, sebetulnya sudah tuntas dan kewenangan dari Kejaksaan sudah optimal," tegasnya.

Seperti diketahui, dalam kasus pembunuhan Munir terdapat dua terdakwa utama yakni Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang ikut serta dalam penerbangan Munir ke Belanda dan Muchdi Purwoprandjono yang didakwa menjadi aktor pembunuhan Munir. 

Pollycarpus yang dinyatakan bersalah dan terbukti terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Munir, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara lewat Peninjauan Kembali (PK). Dalam HUT RI 17 Agustus 2011, Pollycarpus mendapat remisi 9 bulan 5 hari karena aktif di gerakan Pramuka.

Sedangkan untuk Muchdi Pr, pengadilan hingga tingkat kasasi memvonisnya bebas. Mantan Direktur V Badan Intelijen Negara (BIN) itu dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan terlibat dalam kasus pembunuhan Munir. Muchdi pun lepas dari jeratan.

Kendati demikian, terhadap putusan kasasi dari Mahkamah Agung tersebut, Kejagung pada tahun 2009 sempat menyatakan akan melakukan upaya Peninjauan Kembali (PK). Namun, hingga kini PK Muchdi tak kunjung diajukan oleh Kejagung.

Saat hal ini kembali ditanyakan kepada Jaksa Agung, Basrief malah memberikan jawaban mengejutkan. Menurutnya, pengajuan PK atas putusan kasasi Muchdi bukan menjadi kewenangan Kejaksaan.

"Masalah PK ini kan urusan debatable. Jadi kalau kita mengacu pada KUHAP, itu bukan kewenangan Kejaksaan, itu hak terpidana dan ahli waris," ucapnya.

Jawaban Basrief ini terasa janggal. Sebab, meski dalam KUHAP dinyatakan jaksa tidak memiliki hak untuk mengajukan PK, toh selama ini Kejaksaan tetap saja mengajukan PK atas sejumlah kasus.

Namun, Basrief berdalih bahwa Kejaksaan selalu mempertimbangkan dengan matang sebelum mengajukan PK atas sejumlah perkara. "Tidak semua, kita lihat dulu pada kepentingannya," dalihnya.

"Pertama, saya tegaskan kewenangan hak dari PK itu adalah hak terpidana atau ahli waris. Kemudian kita melihat seberapa besar yang harus kita sampaikan pada pengajuan PK itu, khususnya terkait masalah keamanan negara dan lain sebagainya," jelas Basrief.

Dia bersikukuh bahwa pengajuan PK dalam kasus ini seharusnya dilakukan oleh pihak keluarga Munir. Dan, lanjutnya, Kejaksaan tidak dalam posisi menunggu keputusan keluarga Munir.

"Keluarga yang dimaksud itu kan dari terpidana. Jadi sesuai ketentuan, itu hak keluarga dan ahli waris, bukan Kejaksaan yang menunggu keputusan keluarga," tandasnya.

Pada 7 September 2004 silam, di atas pesawat Garuda Indonesia yang membawanya dari Jakarta ke Amsterdam, Munir (38), tewas dengan cara diracun. Terdapat kandungan arsenik belebih dalam tubuhnya.(detik.com)

[MUDIK ACEH] 41 Tewas di Jalan Raya

BANDA ACEH | ACEH MINUTES - Ditlantas Polda Aceh yang menggelar Operasi Ketupat 2011 sejak H-7 hingga H+6 Idul Fitri 1432 Hijriah, menerima laporan 81 kasus kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di jalan raya. Kecelakaan umumnya di jalur lintas timur Aceh, dan sebanyak 41 orang tewas dalam peristiwa terpisah. 

Dirlantas Polda Aceh, Kombes Pol Unggul Sedyantoro mengatakan, korban tewas kebanyakan adalah pengguna sepeda motor (sepmor) yang tertabrak sesama sepmor, dan sebagian kecil antara sepmor dengan mobil. Kecelakaan lalu lintas dimaksud paling banyak terjadi di kawasan Bireuen dan Aceh Timur. 

“Mereka yang tertabrak atau mengalami laka lantas rata-rata bukan pemudik, tapi pengguna sepmor di wilayah masing-masing. Karena itu kita selalu mengimbau, pengguna kendaraan terutama sepmor lebih berhati-hati dan mengikuti aturan berlalu-lintas,” kata Dirlantas ketika dihubungi Serambi kemarin.

Menurutnya, di antara 41 korban tewas, 12 di antaranya tewas pada lebaran hari pertama dan kedua (31 Agustus dan 1 September 2011). “Kerugian materil diperkirakan Rp 38 juta. Kecelakaan oleh sepeda motor 28 unit dan kecelakaan mobil tujuh unit. Sedangkan secara keseluruhan sejak H-7 hingga H+6 hari ini, korban luka berat akibat kecelakaan itu 62 orang, dan luka ringan 74 orang,” sebutnya.

Meski begitu, angka laka lantas di jalan raya lebaran tahun ini cenderung menurun dibanding tahun 2010. Tahun lalu, terjadi 102 laka lantas di seluruh Aceh, dengan rincian 54 orang tewas, 83 luka berat, dan 115 luka ringan. 

“Penurunan ini antara lain disebabkan tahun ini, jajaran Lantas Polda Aceh ikut mengawal para pemudik secara estafet oleh petugas di daerah Polres masing-masing, baik saat mudik, maupun balik. Operasi Ketupat 2011 akan berlangsung hingga besok (hari ini-red),” ujar Dirlantas.

Sementara itu, jumlah laka lantas di Banda Aceh malah meningkat. Tahun lalu dilaporkan tidak ada kecelakaan yang terjadi, namun tahun ini tercatat ada lima kasus yang ditangani Polresta Banda Aceh.

“Ini menunjukkan kesadaran berlalu lintas pengguna jalan tahun ini turun dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Drs Armensyah Thay, melalui Kasat Lantas AKP Siswara Hadi Chandra SIK, kemarin.

Dia merincikan, dari lima kasus kecelakaan yang ditangani selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2011, kasus luka berat dan ringan menimpa 10 pengendara, termasuk para penumpangnya. Dari jumlah tersebut 3 orang mengalami luka cukup parah dan 7 orang lainnya luka ringan. “Korban meninggal tidak ada. Dari sejumlah kasus laka tersebut kerugian material yang ditimbulkan sebesar Rp 1.950.000,” papar Siswara.(Serambinews.com)

[Banda Aceh] Warga Ciduk 7 Pasangan Mesum

Ilustrasi
BANDA ACEH | ACEH MINUTES - Puluhan warga Gampong Kramat, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Selasa (6/9) pukul 01.00 WIB dini hari, menciduk 7 pasangan mesum dari hotel melati “Wadin City” yang sering dijadikan tempat mesum.

Keuchik Gampong Kramat, Masrul Ramli didampingi aparat gampong lainnya kemudian menyerahkan barang bukti berupa 10 unit hanphone, KTP pelaku mesum, obat kuat, kondom, dan para wanita yang diciduk, kepada petugas Wilatul Hisbah Kota Banda Aceh, Selasa siang.

Kepada Serambi Masrul mendesak Pemko Banda Aceh mengambil tindakan tegas terhadap hotel tersebut yang jelas-jelas sering dijadikan tempat mesum.

“Ini untuk kelima kalinya warga menangkap pasangan bukan suami istri yang sedang bermesum di hotel. Petugas WH Kota Banda Aceh juga pernah menangkap, tapi tidak ada sanksi apapun terhadap pemilik hotel,” ujar Masrul sambil berharap Pemko Banda Aceh mencabut izin hotel tersebut.

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, pun langsung memanggil Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Fadhil SSos, dan memerintahkan agar hotel tersebut segera ditutup. Illiza juga memberi apresasi kepada warga Gampong Kramat karena telah mengambil tindakan tanpa anarkis.(Serambinews.com)

[Gempa Singkil] Kisah Bocah Korban Gempa; Sebelum Meninggal, Dedi Minta PS

Ny. Siti (30) warga Jalan T.Nyak Adam Kamil, Desa Subulussalam Utara, 
Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam menangis hsiteris di samping jenazah
anaknya Cok Abang Alias Dedi (10) yang tewas akibat gempa 6,7 SR, Selasa (6/9).
SERAMBI/KHALIDIN
ACEH MINUTES | Play Station (PS). Itulah yang diminta Dediansyah Putra alias Cok Abang (10), murid kelas V SD Negeri 3 Kota Subulussalam, beberapa hari sebelum ia meninggal. Ia berpulang ke Rahmatullah akibat tertimpa beton bangunan saat terjadi gempa 6,7 skala Richter (SR) di Subulussalam, Selasa (6/9) dini hari. 

Karena permintaan Dedi pula, Raja Lela (37), ayah kandung almarhum, berangkat ke Medan, Sumatera Utara, Minggu (4/9) lalu, untuk membeli PS merek Sony sekalian belanja barang dagangannya. “Tapi sampai akhir hayat almarhum, dia tak sempat memainkan PS yang saya belikan,” ujar Raja Lela tanpa dapat menahan tangisnya saat berbincang-bincang dengan Serambi, kemarin.

Dedi adalah anak kedua hasil pernikahan Raja Lela dengan Siti Mala (34). Si anak sebenarnya sudah minta dibelikan PS jauh sebelum puasa Ramadhan lalu. Namun, karena belum punya uang yang cukup, Raja meminta si anak bersabar. 

Beberapa hari setelah 1 Syawal, Dedi kembali menanyakan kapan dibelikan PS untuknya. Kali ini ayahnya menyanggupi dan segera berangkat ke Medan pada Minggu, 4 September lalu. Sang ayah dijadwalkan kembali ke Subulussalam Senin malam. Saat itu, menurut ibunya, Dedi tak sabaran menanti PS yang akan dibawa pulang ayahnya. 

Bahkan, kata sang ibu, dia dan Dedi serta Yuni (7), adik Dedi, baru tidur pukul 24.10 WIB atau hanya beberapa menit sebelum Subulussalam diguncang gempa. 

Tak ada firasat
Sebagai ibu, Siti Mala mengaku tak memiliki firasat apa pun terkait kepergian sang buah hatinya itu. Namun, beberapa saat sebelum tidur, Dedi sempat meminta uang jajan. “Tapi ibunya tidak memberikan uang, karena kue Lebaran di rumah masih banyak dan Dedi pun tidak memaksa,” kata Raja Lela yang sehari-hari pedagang kain obralan.

Karena tak mendapat jajan, Dedi kemudian nekat membuka tas ibunya. Dia temukan uang Rp 1.000 yang sudah terpotong. Uang itu dia sambung seraya berkata kepada adik perempuannya Yuni (7), “Kalau malam ini dibelanjakan, uang ini bakal laku Dek, karena nggak ada yang tahu uangnya bekas dilem.” 

Usai mengelem uang tersebut, Dedi pun pamitan pada ibunya untuk menyeberang jalan ke warung di depan rumah seraya berkata, “Ini terakahir saya menyeberang, setelah itu saya akan tidur, Mak.”

Kata-kata itulah yang kini kerap terngiang-ngiang di telinga Siti Mala. Omongan anaknya itu seakan mengisyaratkan bahwa ia akan tidur selamanya dan tak akan pernah lagi menyeberang jalan untuk jajan. 

Dedi juga sempat mengemasi barang-barang keperluan sekolahnya seperti baju, sepatu, tas, dan buku. Alasannya, sang ibu dalam seminggu terakhir agak cerewet sehingga dia tidak mau ibunya mengomel karena belum mempersiapkan perlengkapan sekolah. Setelah itu, Dedi pun tidur sekamar bersama ibu dan tiga kakak dan adiknya. 

Lalu, pukul 00.57 WIB, gempa mengguncang Kota Subulussalam sehingga meruntuhkan beton dinding tombak layar atap bangunan yang digunakan sebagai tempat belajar Akademi Kebidanan (Akbid) Medica Bakti Persada yang berada persis di samping rumah Raja Lela. 

Nahas, salah satu batu beton yang luruh itu menimpa tubuh Dedi. Padahal, saat gempa mengguncang, ayah Dedi yang sedang pulang dari Medan mengaku sudah berada di Desa Penanggalan, persis di depan Kantor Polisi Militer (POM). Artinya, hanya sekitar dua kilometer lagi dari rumahnya. 

Korban meninggal tertimpa beton konon lantaran sang ibu tak mampu menyelamatkan anaknya yang berjumlah empat orang. Dedi yang tertimpa beton baru tertolong beberapa menit kemudian, karena gelap dan sang ibu kesulitan mencari di mana posisi Dedi berada. 

Mengingat anak dan istrinya tanpa teman di rumah, Raja yang dalam perjalanan pulang dari Medan berdebar-debar hatinya, karena guncangan gempa sangat kuat. Sesampai di rumah, ternyata Dedi tertimpa beton bangunan yang ambruk.

Singkat cerita, PS yang dibeli di Medan itu dia bawa ke rumah tempat anaknya dirawat, namun tak sempat dilihat sang anak. Saat itu, Raja berkata pada Dedi bahwa PS yang dipesan Dedi sudah ia belikan. Tapi, kata Raja, Dedi hanya memandang dengan wajah yang mulai memucat hingga ia mengembuskan napas terakhir. 

“Saya bilang, Nak, ini PS-mu sudah ayah belikan, tapi dia tidak sanggup lagi bicara. Dia hanya memandangi saya, lalu meninggal,” ujar Raja diselingi isak tangis.

Ingin jadi dokter
Semasa hidupnya, alamarhum Dedi, menurut ayahnya, termasuk anak berprestasi. Setiap semester, Dedi meraih ranking II dan III. Dedi juga sangat piawai membaca Alquran. Saat masih kelas I SD, dia sudah dua kali khatam Quran. Ia juga pernah menjuarai lomba azan tingkat Pengajian Nurussalihin, Gang Kombih, Subulussalam Utara.

Menurut Raja, buah hatinya itu bercita-cita ingin menjadi dokter. Bagi keluarga, Dedi merupakan anak yang mendatangkan rezeki, karena setelah ia lahir rezeki orang tuanya lancar. Bahkan Raja yang semula hanya tukang becak mampu membeli rumah dan beralih profesi sebagai pedagang pakaian obralan. Karena itu pula, nama Cok Abang ditabalkan ayahnya pada becak milik Raja, termasuk barang-barang dagangan yang dia beli di Medan. Tapi, kata Raja, semua itu hanya tinggal kenangan karena si buah hatinya kini sudah mendahului menghadap Sang Khalik dalam tragedi gempa kali ini.(Serambinews.com)