Jumat, 09 September 2011

[Banda Aceh] PPP: Illiza Akan Kembali Dampingi Mawardy

BANDA ACEH | ACEH MINUTES - DPC Partai Persatuan Pembangunan (DPC PPP) Banda Aceh memutuskan untuk mengusung kembali Illiza Sa’aduddin Djamal sebagai balon Wakil Wali Kota Banda Aceh, mendampingi Ir Mawardy Nurdin dalam pilkada tahun ini. Demikian salah satu hasil Rapat Pimpinan Cabang (Rapimcab) DPC PPP Banda Aceh, di Aula Kantor DPW PPP Aceh, Kamis (8/9).

Rapim yang dihadiri perwakilan dari 9 Pengurus Anak Cabang (PAC) PPP se-Banda Aceh, pengurus DPC PPP Banda Aceh, dan pengurus DPW PPP Aceh dibuka oleh Ketua DPW PPP Aceh, Tgk Mohd Faisal Amin. Kegiatan ini dirangkai dengan acara halal bi halal para pengurus dan kader PPP di Banda Aceh. 

Ketua DPW PPP Aceh, Mohd Faisal Amin mengatakan, keputusan Rapimcab PPP Banda Aceh ini sesuai dengan isi SK DPP Partai Demokrat yang akan mengusung kembali paket Mawardy Nurdin (Ketua DPW Partai Demokrat Aceh) serta Illiza Sa’aduddin Djamal (Ketua DPC PPP Banda Aceh), sebagai balon Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam pilkada mendatang. Surat keputusan dari Partai Demokrat ini, kata Faisal, telah diserhakan kepada Illiza, pertengahan Ramadhan lalu.

“DPC mengorbitkan pimpinannya. Sesuai peraturan yang ada, maka karena kader internal partai yang naik sebagai wakil tidak diperlukan penjaringan. Saya yakin, Insya Allah paket yang kita usung ini menang pada pilkada akan datang. Karena masyarakat bisa melihat sendiri lima tahun masa kepemimpinan mereka berdua di Banda Aceh,” kata Faisal Amin.

Sementara itu Illiza pada kesempatan itu mengatakan, hasil survei yang dilakukan DPP Demokrat bahwa paket Mawardy dan Illiza memiliki rating tertinggi, sehingga diputuskan untuk dipasang kembali. “Target akan datang selain melanjuti program-program kerja yang sudah ada, juga akan menegakan syariat Islam dan peberdayaan ekonomi masyarakat,” ujarnya. 

Rapimcab kemarin dipimpin Ketua Desk Pilkada Kota Banda Aceh, Tgk Asnawi M Amin, didampingi Sekretaris Desk Pilkada, Munzir, dan Ketua Desk Pilkada DPW PPP Aceh, H Ihsanuddin MZ. Hasil dari Rapimcab yang mengusung paket Mawardy Nurdin dan Illiza sebagai calon wali kota dan wakil wali kota pada pilkada akan datang akan dibawa ke DPP PPP untuk persetujuan mengusung paket tersebut. (Serambinews.com)

Subulussalam Buka Sekolah Tenda

SUBULUSSALAM | ACEH MINUTES - Sebanyak 230 murid di dua Sekolah Dasar (SD) Kota Subulussalam, Kamis (8/9) terpaksa belajar di tenda dan bangunan penjemuran batu bata karena gedung sekolahnya rusak berat akibat gempa berkekuatan 6,7 skala Richter (SR). Kedua sekolah tersebut adalah SDN Pasir Panjang, Kecamatan Simpang Kiri, dan SDN 2 Runding, Kecamatan Runding.

Di SD Negeri Pasir Panjang, misalnya, sebanyak enam tenda bantuan Dinas Sosial Kota Subulussalam dibangun untuk menampung 175 murid. Sejumlah murid yang ditanyai Serambi mengaku kurang nyaman belajar di tenda karena selain panas, pada saat hujan justru basah dan becek. Juga sering bising, karena letak sekolah itu di pinggir jalan. “Tapi kalau belajar di gedung kami justru takut roboh,” kata Hayati Putri, murid kelas V SDN Pasir Panjang.

Sementara itu di SDN 2 Runding, 55 peserta didik yang terdiri atas murid kelas V dan VI terpaksa belajar di luar gedung sekolah. Kepala sekolah meminjam pakai sebuah bangunan penjemuran batu bata seukuran 3x40 meter milik seorang warga sebagai tempat belajar muridnya. 

Pihak sekolah memasang plastik di sekeliling bangunan agar murid tidak terlalu merasa bising, karena tenda belum dipasang. “Mungkin hari ini baru dipasang,” terang Karyandi, Kepala SDN 2 Runding.

Selain dua lokal bangunan yang dinilai rawan, Karyandi juga menyampaikan sekurangnya 40 meter dari 200 rentang panjang pagar sekolah yang baru dibangun tahun ini ambruk. Namun, pagar tersebut masih merupakan tanggung jawab pemborong lantaran belum diserahterimakan ke pihak sekolah. 

Menko tinjau
Menteri Koordinator Kesejahteraan Raykat (Menko Kesra), Agung Laksono dijadwalkan, Jumat (9/9) hari ini akan meninjau langsung korban dan lokasi bencana gempa tektonik 6,7 SR di Aceh Singkil dan Subulussalam. Demikian disampaikan Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda kepada Serambi, kemarin. 

Menurut Sulaiman Abda, kepastian Agung Laksono mengunjungi dua daerah musibah bencana gempa itu setelah pihaknya melakukan komunikasi langsung saat melaporkan dampak bencana gempa yang dialami daerah tersebut.

“Setelah mendengar laporan dari kita, Pak Agung merasa prihatin dan beliau langsung menyatakan akan turun ke lokasi untuk melihat korban dan dampak yang terjadi dari bencana gempa itu. Isya Allah kalau tidak ada hal lain yang lebih penting dan mendesak beliau akan ke Singkil dan Subulussalam besok (hari ini -red),” ujar Sulaiman Abda.

Berdasarkan laporan yang diterima, rombongan Menko Kesra Agung Laksono akan terbang dari Jakarta naik pesawat Garuda sekitar pukul 08.00 WIB dan transit di Bandara Polonia Medan. Dari Polonia Medan akan terbang dan mendarat di Lapangan Terbang Aceh Singkil menggunakan pesawat carteran.

Setelah mengunjungi melihat korban dan lokasi bencana gempa di Aceh Singkil, katanya, rombongan akan menuju Subulussalam via darat. “Setelah mengunjungi dua daerah tersebut, Agung Laksono dan rombongan balik lagi ke Jakarta pada hari itu juga,” katanya.

Di samping itu, Sulaiman Abda juga meminta Pemerintah Aceh supaya memantau kondisi korban bencana di dua daerah itu. Begitu juga sarana pendidikan yang banyak mengalami kerusakan harus segera dibangun kembali atau setidaknya membuat sekolah darurat. “Dengan demikian, anak-anak tidak telantar dan mereka bisa kembali bersekolah seperti biasa,” harap Sulaiman Abda yang juga Ketua DPD I Partai 

Golkar Aceh
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat, Kamis (8/9) kemarin menyalurkan bantuan tanggap darurat senilai Rp 200 juta untuk para korban bencana alam gempa bumi di Kota Subulussalam. 

Bantuan dalam bentuk cek tersebut diserahkan oleh Direktur Bantuan Darurat BNPB Pusat, Brigjen TNI DMP Nainggolan kepada Wali Kota Subulussalam Merah Sakti seusai menggelar rapat koordinasi dengan jajaran Muspida Kota Subulussalam.(serambinews.com)

Hujan Badai Hantam Barat-Selatan Aceh



090911foto.8_.jpg
TAPAKTUAN | ACEH MINUTES - Hujan lebat disertai angin kencang di wilayah barat-selatan Aceh, mulai dari Aceh Jaya hingga Aceh Selatan pada Rabu (7/9) petang menimbulkan kerusakan bangunan milik masyarakat dan fasilitas publik lainnya. Di Aceh Selatan, ratusan rumah sempat terendam, sedangkan di Aceh Barat Daya (Abdya), tiga rumah dilaporkan ditimbun longsor.

Dari Aceh Selatan dilaporkan, hujan deras yang mengguyur wilayah itu selama tiga jam, Rabu (7/9) sore merendam sedikitnya 340 rumah dalam enam desa di Kecamatan Labuhan Haji.

Camat Labuhan Haji, Salmiadi melaporkan, rumah yang sempat terendam masing-masing di Desa Manggis Harapan, Desa Dalam, Kota Palak, Pasar Lama, Pasar Indra Pura, dan Kampung Apha. Banjir kiriman dari gunung itu juga merendam sebuah puskesmas mengakibatkan seorang pasien rawat inap harus diungsikan. Fasilitas publik lainnya yang ikut terendam di antaranya kantor pos, sekolah, dan kantor camat. Namun pada Kamis kemarin keadaan kembali normal.

Masih di Aceh Selatan, hujan lebat pada Rabu sore juga mengakibatkan terendamnya perumahan di Desa Panton Pawoh, Kecamatan Labuhan Haji Barat. Bahkan 300 meter tanggul pengaman badan jalan jebol. “Ketinggian air mencapai 25 centimeter pada lokasi-lokasi tertentu,” kata Keuchik Panton Pawoh, A Dami HB.

Tertimbun longsor
Di Abdya juga terjadi banjir genangan di sejumlah kawasan. Bahkan, tiga rumah di Dusun Alue Badeuk, Gampong Cot Manee, Kecamatan Jeumpa, dilaporkan tertimbun tanah longsor.

Data dari Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Abdya, Kamis (8/9) menyebutkan, rumah yang tertimbun longsor itu masing-masing milik Salamah (56), Muslimah (35), dan Zulbaili.

“Kejadiannya saat hujan lebat sore itu. Kami tidak bisa masak karena dapur dipenuhi tanah liat dari tanah gunung yang longsor,” kata Salamah didampingi putranya, Musliadi (30).

Selain rumah tertimbun longsor, hujan lebat di wilayah Abdya juga merendam sejumlah desa, di antaranya Cot Manee dan Alue Rambot, Kecamatan Jeumpa, Desa Guhang, Kecamatan Blangpidie, Desa Ie Mameh dan Lhueng Geulumpang, Kecamatan Kuala Batee, Desa Padang Meurante, Kecamatan Susoh serta Desa Meunasah Sokon, Kecamatan Lembah Sabil.

Kepala BPBD Abdya, Rahwadi AR ST mengatakan, pihaknya bersama tim Dinas Sosial dan Tenaga Kerja serta Muspika Jeumpa sudah turun ke lokasi musibah, termasuk membersihkan longsoran yang menimbun tiga rumah di Gampong Cot Manee.

Aceh Jaya
Hujan deras disertai angin kencang pada Rabu sore juga menimbulkan sejumlah kerusakan di Kabupaten Aceh Jaya, antara lain di Desa Meudheun (Lamno), Kecamatan Jaya, dua rumah dan satu sekolah rusak berat. 

Keuchik Meudheun, M Daud mengatakan, rumah yang rusak akibat terjangan angin kencang masing-masing milik Wardi (35) dan Hj Lailawati (34). “Atap dan bagian rangka atas rumah diterbangkan angin,” kata Keuchik Daud.

Selain rumah, SD Meudhen juga rusak akibat angin kencang. Masyarakat panik sambil berusaha mencari tempat aman dari hal-hal yang tak diharapkan.

Aceh Utara
Wilayah Aceh Utara ternyata tak luput dari terjangan angin kencang pada Rabu sore tersebut. Kawasan yang terkena hantaman antara lain Kecamatan Paya Bakong dan sekitarnya. Lima rumah di kecamatan itu dilaporkan rusak berat dan ringan. Kubah masjid jatuh dan terhempas sejauh 150 meter.

Camat Paya Bakong, Nurdin Daud didampingi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), A Syarifuddin, Kamis (8/9) merincikan, lima rumah yang rusak total masing-masing milik Ti Hasanah (44) Desa Blang Sialet, M Harun (61) warga Banda Pirak. Muhammad (27) Desa Paya Meudru, Ismail Gani Keuchik Desa Gunci, dan Raudah (49) warga Desa Gunci.

Sedangkan Masjid Baitul Amal di Desa Paya Meudru, kubahnya copot dan terhempas sejauh lebih kurang 150 meter. “Banyak pohon bertumbangan dan terganggunya jaringan listrik,” kata Camat Paya Bakong.(Serambinews.com)

Amuk Keluarga Pasien Itu Teguran bagi RSUZA

ACEH MINUTES | Seorang keluarga pasien mengamuk di ruang High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Rabu (7/9) pagi. Ia bahkan sempat mengeluarkan pistol untuk menembak dokter. Pelaku disebut-sebut kecewa karena orangtuanya lambat dioperasi sehingga nyawanya tak tertolong. 

Pria yang mengaku bernama Fadil bersama enam rekannya langsung mengamuk sambil menyerang dr Rozi Fadhori. Para perawat yang berusaha melerai malah dipukul hingga berdarah-darah. Sambil memukul si perawat, pelaku mengeluarkan pistol mengancam tembak Dokter Rozi yang ternyata sudah sempat melarikan diri. 

Beberapa saat setelah itu, polisi datang dan mengamankan pelaku ke ruang IGD. Sedangkan Dokter Rozi Fadhori bersama dua perawat, melaporkan secara resmi kasus pemukulan dan pengancaman tembak itu ke Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh. Motif pemukulan itu sudah jelas bahwa sang pelaku kecewa karena buruknya layanan pihak RSUZA hingga nyawa orangtuanya tak tertolong. 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh meminta Direktur RSUZA benar-benar mengawal kasus ini. Begitu juga kepada penegak hukum untuk mengusut tuntas, jika tidak maka tak ada jaminan keselamatan terhadap dokter yang bertugas melayani pasien. “Kami dari IDI juga akan mengawal khusus kasus ini, bahkan menggelar rapat, termasuk kemudian nanti mempublikasikan ke media massa,” demikian Ketua IDI Aceh. 

Dokter Rozi dan dua perawat yang kena pukul itu sesungguhnya hanya tumbal dari sekian banyak kemarahan masyarakat, terutama keluarga pasien atas buruknya layanan pihak RSUZA selama ini. Temuan paling mutakhir adalah ketika inspeksi mendadak ke RSUZA usai Idul Fitri pekan lalu, Wagub Muhammad mendapat laporan tentang adanya sejumlah pasien JKA yang dipungut biaya di RS itu. 

Makanya, boleh saja keluarga pasien tadi menjadi tersalah karena memukul dokter dan perawat. Tapi, pihak RSUZA juga harus tahu diri bahwa selama ini sangat sering mengecewakan masyarakat. Kasus keluarga pasien marah-marah kepada dokter dan perawat bukan sekali ini saja terjadi. Tapi, coba amati saja di ruang IGD, hampir setiap hari ada keluarga yang pasien marah karena lambannya penanganan terhadap orang sakit.

Dokter Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum IDI Pusat dalam satu kesempata pernah mengatakan, “Berapa besar kesalahan medik terjadi dalam sebuah rumah sakit akan sulit diketahui karena kecenderungan dokter untuk mengelak jika dinyatakan ada kesalahan.”

Oleh sebab itulah, menurut Kartono, di negara-negara maju sudah dibentuk tim atau komisi independen pemantau pelayanan medik di setiap rumah sakit. Dengan demikian, dokter yang bertindak salah akan langsung ketahuan tanpa bisa mengelak seperti selama ini di Indonesia. Nah?(Serambinews.com)

[Banda Aceh] Polisi: Fadil Itu Bripda Mulya

Ilustrasi
BANDA ACEH | ACEH MINUTES - Pria yang memukul perawat dan dokter, bahkan mengeluarkan pistol di Ruang High Care Unit (HCU) RSUZA Banda Aceh, Rabu (7/9) pagi ternyata anggota Polri berpangkat Bripda. “Bukan Fadil namanya, tetapi Mulya. Dia anggota polisi berpangkat Bripda,” kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Armensyah Thay kepada Serambi, Kamis (8/9) siang.

Pernyataan resmi dari Kapolresta Banda Aceh ternyata berbeda dengan kesaksian perawat (korban) yang mendengarkan langsung pengakuan pelaku ketika mengamuk pagi itu. 

Menurut pihak korban, ketika mengamuk sambil memukul dokter dan perawat, pelaku mengeluarkan pistol. Dengan nada menahan amarah, pelaku meminta seorang parawat (korban) bernama Hamdardi mencatat namanya. “Namaku Fadil, kau catat itu,” kata seorang korban ketika membuat pengaduan ke polisi. Hamdardi tak tahu persis jenis pistol yang digunakan pelaku, tetapi diperkirakan FN.

Kapolresta Banda Aceh ketika dimintai konfirmasinya mengatakan tak punya kapasitas menyebutkan tempat tugas Bripda Mulya, karena kewenangan untuk itu ada pada Propam Polda Aceh. 

Tapi, intinya, kata Armensyah, pelaku merupakan anggota Polri yang diketahui setelah dilakukan penelusuran pascalaporan dari seorang dokter serta dua perawat RSUZA yang melaporkan kasus itu ke Polresta beberapa saat setelah kejadian.

Kapolresta Banda Aceh juga mengatakan, sejauh ini pihaknya belum bisa menarik kesimpulan bagaimana sebenarnya kasus itu terjadi. Menurut Armensyah Thay, ada satu versi informasi menyebutkan yang bersangkutan belum mengeluarkan senjata tapi baru sekadar ingin mencabutnya, sedangkan satu versi lain menjelaskan bahwa pelaku telah menodongkan senjatanya dan mengancam tembak.

“Kalau menurut laporan dokter serta dua perawat RSUZA yang mengadukan hal itu, jelas menyebutkan senjata telah ditarik dan sempat ditodongkan pada perawat karena dokternya langsung menyelamatkan diri. Namun di sisi lain penyidik kan perlu mendapatkan keterangan dari pelaku. Tetapi sampai hari ini (Kamis), Bripda Mulya belum diperiksa karena yang bersangkutan masih dalam keadaan berduka,” kata Kapolresta Banda Aceh.

Curhat ke Kapolda
Pada Kamis kemarin, Direktur RSUZA dr Taufik Mahdi, Kadis Kesehatan Aceh dr M Yani, dan Pengurus Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Aceh menemui Kapolda Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan. Bersama mereka juga ikut dr Rozi Fadhori serta perawat Hamdardi.

Para petinggi di jajaran kesehatan tersebut curhat mengenai kasus penganiayaan dan pengancaman tembak oleh oknum polisi terhadap dokter dan perawat di Ruang HCU RSUZA, Rabu (7/9).

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, dr Fachrul Jamal kepada Serambi menyebutkan, tujuan ke Kapolda Aceh untuk melaporkan kasus kekerasan terhadap dokter dan perawat bukan yang pertama terjadi, tetapi sudah sering. “Kami merasa perlu melaporkan kondisi ini ke Kapolda, dengan harapan anggota di lapangan bisa mengubah sikap arogansi itu,” kata Fachrul Jamal seusai pertemuan dengan Kapolda Aceh.

Kecaman
Kecaman atas terjadinya kasus kekerasan terhadap perawat dan dokter RSUZA muncul dari berbagai kalangan. Lembaga perhimpunan dokter dan perawat tingkat Aceh dan Kota Banda Aceh menyatakan prihatin dan sangat menyesalkan terjadinya insiden itu.

Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Aceh, dr Rais Husni Mubarak dalam pernyataan sikap yang ditembuskan ke Direktur RSUZA dan Ketua IDI Aceh, menyampaikan sembilan poin menanggapi kasus itu. 

Menurutnya, benar seorang pasien tidak bisa dioperasi terburu-buru, jika kondisinya masih sangat buruk, seperti pendarahan di kepala yang dialami pasien Kartini Abdullah (ibunda dari Bripda Mulya), Jika langsung dioperasi, maka risikonya pasien bisa meninggal operasi sehingga dokter yang salah. 

“Namun begitu, benar atau tidak seseorang haruslah bisa dibuktikan secara hukum di depan majelis hakim. Kami mengutuk keras segala bentuk tindakan arogansi dan pengancaman terhadap hak hidup seseorang,” tulis Rais dalam salah satu poin pernyataan sikap PDUI Aceh. 

Kecaman serupa serta meminta polisi mengusut tuntas kasus itu juga disampaikan Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Banda Aceh, Agussalim SKM MKes, Koordinator Profesi Kesehatan Banda Aceh, Junawardi SKM, dan Ketua Aceh Federation Public Health (AFPH), Mulyadi SKM.(serambinews.com)