Jumat, 09 September 2011

[Siaran Pers] KontraS Aceh mengecam tindakan TNI yang dengan semena-mena melepaskan tembakan

Aniaya Pemburu Kancil, Pos TNI Dibakar

ACEH MINUTES | Pada Senin malam, 5 September 2011, sekitar pukul 23.30 WIB empat orang warga Desa Simpang Tiga, Kec. Kluet Tengah, Aceh Selatan dianiaya oleh aparat TNI Yonif 115/Macan Leuser yang menjaga lokasi pertambangan bijih besi PT. Pinang Sejati Utama (PT. PSU).

Berdasarkan hasil investigasi KontraS Aceh, keempat warga tersebut adalah yaitu AA (33), JD (35), ML (40) dan AZ (33) yang sedang dalam perjalanan pulang dari gunung untuk mencari/berburu kancil dengan menenteng dua buah senapan angin serta pisau sebagai alat untuk berburu. Ketika melewati PT. PSU, mereka dihadang oleh sekitar sepuluh orang aparat TNI dan mereka dibawa ke pos TNI yang juga di Desa Simpang Tiga.

Di pos TNI, mereka diinterogasi. Aparat menuduh mereka telah mencuri batu bijih besi di lokasi PT. PSU. Setelah diinterogasi, JD, AZ dan ML disuruh mandi dalam kolam lumpur tanpa baju sedangkan AA disuruh berdiri sebelah kaki di atas meja sambil mengangkat kursi. Keempatnya juga disuruh push up, merayap, jungkir balik di tanah, dipukul dengan senapan angin, ditendang di dada dan bagian tubuh lainnya. Hingga pukul 04.00 WIB baru dilepaskan dan korban diperbolehkan pulang.

Pada Selasa, 6 September 2011, pukul
09.00 WIB warga Desa Simpang Tiga, Kec. Kluet Tengah, Aceh Selatan mendatangi pos TNI di Desa Simpang Tiga. Warga bermaksud menanyakan siapa pelaku penganiayaan terhadap empat warga desa yang terjadi pada Senin malam hingga dinihari di pos TNI tersebut.

Akan tetapi, aparat TNI tidak mau mengakui hingga terjadi keributan dan perang mulut di pos TNI. M. Saleh (30) yang terus mendesak agar aparat memberitahukan siapa pelakunya ditembak oleh Komandan Posko (Danpos) yang mengenai bagian kepala dan mengalami pendarahan serius. M. Saleh dilarikan ke Puskesmas di Desa Koto yang berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian.

Mengetahui ada yang tertembak, warga marah lalu membakar dua pos TNI (di Desa Simpang Tiga dan Desa Simpang Dua) beserta dua unit sepeda motor milik TNI di kedua lokasi.

Sekitar pukul 12.00 WIB, kelima korban bersama geusyik, tuha peut dan tokoh masyarakat desa menjalani pemeriksaan di Polres Aceh Selatan. Setelah pemeriksaan di Polres, mereka diperiksa lagi di kantor Polisi Militer (POM).

Menurut keterangan warga, akan diadakan perdamaian (peusijuek) antara TNI dan masyarakat pada hari Minggu, 11 September 2011.

Sikap KontraS Aceh:

KontraS Aceh mengecam tindakan TNI yang dengan semena-mena melepaskan tembakan terhadap M. Saleh. Wakil Koordinator KontraS Aceh, Asiah Uzia mengatakan setiap orang berhak mengetahui apa yang terjadi terhadap keluarga dan warga desa lainnya termasuk siapa yang melakukan penganiayaan terhadap mereka. TNI harusnya memberi informasi yang benar dan tidak melindungi anggotanya yang bersalah. Bahkan Danpos yang melepaskan tembakan harus evaluasi lagi status kemiliterannya dan kapasitasnya dalam penggunaan senjata api, kata Asiah.

Asiah juga menyesalkan keberadaan TNI di desa tersebut untuk menjaga area pertambangan serta meminta kedua posko dicabut dan TNI dikembalikan ke barak. TNI bukanlah tentara bayaran. Bila PT PSU membutuhkan pengamanan, maka dapat dikoordinasikan dengan kepolisian setempat, ujarnya.

Terhadap perdamaian (peusijuek) yang akan dilangsungkan, KontraS Aceh menyatakan mendukung proses damai tetapi tidak dengan mengabaikan proses hukum. Proses hukum tetap harus dilanjutkan meski ada perdamaian. Penegakan hukum yang adil dan benar akan lebih efektif untuk memberikan efek jera daripada hanya sebatas mengucapkan kata damai,? tambahnya.

Banda Aceh, 9 September 2011
Badan Pekerja KontraS Aceh

Asiah Uzia-Wakil Koordinator
Konfirmasi:

Kapolsek Kluet Tengah, Ipda Ferdiansyah, SH 085277538033
Asiah Uzia 08126988959

Istana Belum Komentari Penahanan Sepupu SBY

JAKARTA | ACEH MINUTES - Pihak Istana Kepresidenan belum menanggapi penahanan Nur Tjahjono (50), sepupu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ditahan polisi karena perkara utang piutang. Nur telah mendekam di rumah tahanan Pacitan sejak 23 Juli 2011.

"Belum. Nanti, ya," kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada Kompas.com saat ditemui di depan Istana Negara, Jakarta, Jumat (9/9/2011). Julian berjanji akan memberikan penjelasan secepatnya.

Tjahjono mengaku digugat tim suksesnya secara perdata terkait utang piutang setelah kalah dalam pemilihan kepala daerah 2010-2015 di Pacitan, Jawa Timur. Informasi yang dihimpun Kompas.com, para penggugat mengumpulkan KTP untuk kepentingan pencalonan Tjahjono. Mereka dijanjikan menerima imbalan uang per lembar KTP yang dikumpulkan. Seusai Pilkada, Tjahjono tak membayar kewajibannya yang mencapai sekitar Rp 900 juta.

Pengadilan Negeri Kabupaten Pacitan memenangkan gugatan para penggugat dan memutuskan menyita harta bendanya. Dalam surat terbuka yang dibuat dan dikirimkannya kepada Presiden dan juga diterima Kompas.com, Kamis (8/9/2011), Tjahjono menyebutkan bahwa pihak pelapor bermaksud mencabut pengaduannya, tapi polisi mengatakan kasusnya tidak bisa dihentikan karena merupakan titipan keluarga.

"Semua pihak memberi keterangan bahwa masalah ini harus lanjut karena sudah ada titipan dari keluarga," tulis Tjahjono. Ia menulis kata keluarga dengan huruf besar. Kata keluarga merujuk pada keluarga Cikeas.

"Saya merasa tidak pernah berbuat masalah dengan keluarga. Saya juga instropeksi, saya tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa. Adinda ini hanya orang kecil warga kampung biasa yang berjuang untuk hidup dan menghidupi anak istri adinda, tidak ada apa-apanya dibanding keluarga yang besar ini," tulisnya.

Ia menyatakan tidak pernah memerintahkan pelapor untuk menggunakan atau mengeluarkan uang pribadi. Ia juga menyatakan tidak pernah melakukan transaksi pinjam meminjam selama proses Pilkada.(kompas.com)

Ditahan Polisi, Sepupu SBY Kirim Surat Terbuka ke SBY

JAKARTA | ACEH MINUTES - Nur Tjahjono (50), sepupu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditahan polisi karena perkara utang piutang. Ia mendekam di rumah tahanan Pacitan sejak 23 Juli 2011. Ia mengirim surat terbuka kepada Presiden Yudhoyono mengadukan masalahnya.

"Saya disangka menipu karena tidak mengembalikan uang pribadi pelapor yang katanya dikeluarkan pada saat menjadi tim sukses saya sewaktu proses Pilkada Bupati Pacitan 2010 Desember kemarin," terang Tjahjono dalam suratnya yang juga dikirim ke Kompas.com, Kamis (8/9/2011). Surat itu ditulisnya dari balik jeruji.

Dalam surat tertanggal 6 September 2011 itu, Tjahjono menyebut Yudhoyono dengan kakanda dan menyebut dirinya dengan adinda. Ibu Tjahjono adalah adik kandung ayah Yudhoyono. Ia bertanya pada Yudhoyono, kenapa nama Yudhoyono dibawa-bawa polisi sebagai restu untuk menahan dirinya.

"Adinda tidak mengerti dan tidak habis pikir kenapa dalam masalah ini mereka melibatkan nama keluarga. Semua pihak membawa nama Cikeas. Izin dan restu Cikeas selalu disebut untuk menangkap dan menahan Adinda," tulisnya.

Tjahjono mencalonkan diri sebagai calon Bupati Pacitan periode 2010-2015. Dia kalah. Setelah itu, sejumlah orang yang mengaku sebagai tim suksesnya menggugat secara perdata terkait utang piutang. Informasi yang dihimpun Kompas.com, para penggugat mengumpulkan KTP untuk kepentingan pencalonan Tjahjono. Satu KTP dihargai sekian rupiah.

Usai Pilkada, Tjahjono tak membayar kewajibannya yang mencapai sekitar Rp 900 juta. Pengadilan Negeri Kabupaten Pacitan memenangkan gugatan para penggugat dan memutuskan menyita harta bendanya.

Dalam suratnya kepada Yudhoyono, Tjahjono tidak menceritakan apakah persoalan yang membuatnya ditahan terkait masalah di atas. Ia hanya menyebut, ada yang melaporkan dirinya dengan tuduhan penipuan.

Terkait tuduhan itu, ia menyatakan, tidak pernah memerintahkan pelapor untuk menggunakan atau mengeluarkan uang pribadi. Ia juga menyatakan tidak pernah melakukan transaksi pinjam meminjam selama proses Pilkada.

Semula, lanjutnya, saat ia mulai ditahan, ada komunikasi yang terjadi antara pejabat Polres Pacitan dengan seseorang di Jakarta yang mengaku sebagai ajudan Yudhoyono. Ada janji yang diucapkan ajudan itu bahwa pihak Cikeas akan melunasi sejumlah uang yang dianggap sebagai kerugian pihak terlapor.

Pihak terlapor juga sepakat akan mencabut pengaduannya jika uangnya diganti. Namun, janji dari orang yang mengaku sebagai ajudan Yudhoyono tersebut tak kunjung terealisasi.

Tjahjono kembali bernegosiasi dengan pelapor. Hasilnya, pelapor bersedia mencabut pengaduannya. Namun, pihak Polres, tulisnya, tak bersedia menghentikan kasus ini.

"Semua pihak memberi keterangan bahwa masalah ini harus lanjut karena sudah ada titipan dari keluarga," tulis Tjahjono. Ia menulis kata keluarga dengan huruf besar. Kata keluarga mengacu pada keluarga Cikeas.

"Adinda ini terlalu kecil ibarat sebutir kerikil yang terlempar di jalanan, atau hanya seekor cacing yang kepanasan, atau ibarat hanya sekecil semut yang berlarian di kandang gajah. Jadi tidak ada gunanya kalau nama keluarga berperan dalam masalah nasib saya ini," tulisnya.

"Saya menyadari si kecil ini bisa saja segera binasa oleh sebuah kekuatan yang besar. Namun, adinda tetap berjuang untuk hidup dan kehidupan karena adinda punya anak dan isteri dan juga punya keyakinan bahwa tak sepantasnya yang besar harus menginjak-injak yang kecil," imbuhnya.(kompas.com)

Santos Bakal Hadang Barca-Madrid dengan Ajukan Kontrak Baru pada Neymar

ACEH MINUTES | Langkah antisipasi akan diambil Santos untuk tetap mempertahankan Neymar dari incaran sejumlah klub. Paling tidak, dengan menawarkan proposal kontrak baru pada striker muda Brasil itu.

Rencana klub yang kini memiliki hak atas Neymar ini sendiri tentunya akan membuat dua raksasa asal La Liga, Barcelona dan Real Madrid untuk sementara waktu harus gigit jari. Pasalnya, kedua kubu inilah yang belakangan memang menunjukkan hasrat besarnya untuk memboyong sang striker, meski jendela transfer musim panas tahun ini telah ditutup, per 31 Agustus lalu.

"Saya tidak dapat memberi rinciannya (terkait kontrak baru)," kata sang presiden Santos, Luiz Ribero kepada Radio Globo, seperti yang dikutip dari Goal.com.

"Saya tentunya tak akan membiarkannya pergi," sambungnya. "Kami ingin ia tetap di sini (Santos) dan kami akan melakukan langkah yang terbaik untuk menghindari kepergiannya terjadi."

Kendati memiliki keinginan yang kuat, Ribero sendiri mengakui kalau masa depan Neymar tentunya tak akan selamanya berada di Santos. Hal ini mengingat usia muda dan keinginan sang striker yang sempat menyatakan hasratnya untuk mencicipi berlaga di Eropa.

"Jika suatu hari nanti ia ingin pergi, saya akan menghormati keputusannya tersebut," jelas Ribero.

Keinginan Barcelona dan Madrid sendiri, sempat diakui Neymar, kian membuat kepercayaan dirinya makin tinggi. Hal ini tentunya tak lepas dari status yang melekat pada kedua klub peserta La Liga itu sebagai klub terbaik di dunia.(Bolanews.com)

Menlu Israel Siapkan Strategi Melawan Turki

Menlu Israel Avigdor Lieberman (telegraph)
TEL AVIV | ACEH MINUTES- Menteri Luar Negeri Israel tengah bersiap diri untuk melakukan serangan balasan ke Turki yang saat ini tampak melakukan konfrontasi terhadap Israel. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan saat ini tengah melancarkan kebijakan-kebijakan yang dinilai makin memperburuk hubungan Turki dan Israel.

Israel berencana akan merangkul Armenia yang merupakan rival bersejarah bagi Turki dan akan melobi negara tersebut agar mendesak Turki mengakui pembantaian massal terhadap warga Armenia di era Perang Dunia Pertama.

Menteri Luar Negeri Turki Avigdor Lieberman juga akan bertemu dengan pemberontak Kurdi di Eropa untuk bekerja sama dengan dan mendukungnya di berbagai wilayah.

"Kami akan buktikan pada Erdogan, bermain-main dengan Israel akan berakibat serius, Turki lebih baik memperlakukan kami dengan hormat dan sopan," ujar Lieberman, seperti dikutip Maan, Jumat (9/9/2011).

Israel tampak melakukan apa yang dilakukan juga oleh Turki. Turki sebelumnya juga berkunjung ke Mesir yang akhir-akhir ini berseteru dengan Israel. Turki bahkan mengadakan perjanjian pertahanan dengan negara tersebut, selain itu Turki juga berencana akan pergi ke Gaza.

Kunjungan Turki ke Gaza dinilai akan semakin memperburuk hubungannya dengan Israel karena akses masuk ke Gaza harus melalui izin Israel. Turki juga menyatakan dukungannya terhadap pejuang Hamas yang merupakan musuh Israel. Turki tidak menganggap Hamas adalah kelompok teroris, Turki menganggap Hamas selayaknya pejuang yang hendak membebaskan diri dari kolonialisme. (okezone.com)