Jumat, 12 Agustus 2011

Solidaritas Wartawan Bogor Demo Anti Kekerasan

BOGOR-Puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik yang tergabung dalam Solidaritas Wartawan Anti Kekerasan (SOWAK) menggelar demo di halaman Balaikota Bogor, Jumat siang, 12 Agustus 2011. 

Unjuk rasa merupakan protes atas terjadinya dugaan penyekapan dan intimidasi kepada Eka Rachmawati, wartawati media lokal di Bogor oleh seorang pengusaha hotel. Dalam aksinya, para jurnalis membentangkan poster bertuliskan "Stop Kekerasan Terhadap Jurnalis".

Selain berorasi mengecam intimidasi tersebut, awak media pun mengumpulkan penunjang tugas wartawan, seperti id card, alat perekam dan kamera. Usai menyampaikan sikap, para jurnalis diterima Asisten Sosial dan Kemasyarakatan Pemerintah Kota Bogor, Edgar Suratman.

Menurut Mery, wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Bogor, kasus intimidasi dan penyanderaan yang dialami Eka dan sebelumnya penganiayaan reporter Tempo TV di Rumpin, tidak bisa dibiarkan. "Para pelakunya harus diproses secara hukum. Kerja wartawan diatur undang-undang."

Sementara itu, Edgar Suratman juga mengecam kekerasan terhadap wartawan. Sebab, hal tersebut sama artinya mengekang kebebasan pers dalam menggali dan menyiarkan informasi. Karena itu, dia sepakat agar pelakunya diproses secara hukum.

Hal senada dikemukakan Kepala Kepolisian Resor Bogor Kota, Ajun Komisaris Besar Hilman. Menurutnya, narasumber seharusnya menggunakan haknya sebagaimana diatur Undang-undang Pers, seperti hak jawab dan hak sanggah.

"Untuk dugaan penyekapan dan ancaman kekerasannya kita proses. Jika memenuhi unsur, tentu bisa dijemput paksa," kata Hilman melalui pesan singkatnya.

Sebelumnya, Eka Rachmawati, wartawati koran lokal di Bogor dijemput secara paksa oleh pemilik sebuah hotel dari kantor redaksinya di Jalan Atna Wijaya, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Selasa, 9 Agustus 2011.
sumber: Tempointeraktif

Inilah Taktik Petugas Membawa Pulang Nazaruddin

BOGOTA - Keinginan Muhammad Nazaruddin agar dirinya diperiksa di Bogota, Kolombia, ditolak oleh otoritas pemerintah setempat. Ia dideportasi dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia yang telah mengirim tim penjemput sejak beberapa hari lalu.

Permintaan Nazaruddin untuk mendapatkan perlindungan politik dalam status "political asylum" juga ditolak oleh pemerintah Kolombia. Menurut Wakil Duta Besar RI di Bogota, Made Subagia, penolakan itu dilakukan karena pemerintah setempat tak ingin direpotkan oleh masalah kriminal seperti kasus Nazaruddin. "Kolombia sudah sering menghadapi kasus seperti ini," katanya saat ditemui Tempo di kantornya, Kamis petang tadi waktu setempat atau Jumat, 12 Agustus 2011 pagi tadi.

"Mereka tak mau hubungan baik yang sudah terjalin selama ini dengan Indonesia terganggu oleh hal-hal semacam ini," ia menambahkan. "Lagipula, kasus Nazaruddin itu adalah pidana murni. Tak ada hak politik apa pun dari yang bersangkutan yang terancam atau dilanggar selama ini."

Upaya tim pengacara Nazar di bawah koordinasi O.C. Kaligis untuk memperoleh akses perlindungan hukum juga tak bisa dilakukan maksimal. Bahkan, sejak ditangkap di Cartagena pada 6 Agustus malam lalu, Nazar tak pernah diberi kesempatan untuk didampingi pengacaranya dalam proses pemeriksaan di Imigirasi dan kepolisian setempat. "Itu semata-mata karena aturan dan protokol pemerintah Kolombia," kata Made. "Mereka minta ada kelengkapan surat kuasa dan sebagainya."

Melalui Kaligis, Nazaruddin juga berusaha menyewa pengacara lokal dari kantor De La Espriella di Bogota D.C, yaitu pengacara Abelardo De La Espriella. Bahkan, ia sudah berhasil mendapatkan surat kuasa yang ditulis dalam bahasa Spanyol dan diteken Nazaruddin plus cap jempolnya. Namun, hanya selang beberapa jam setelah surat itu dilengkapi, pukul 17.15 waktu setempat, Nazaruddin keburu dibawa terbang dengan pesawat khusus yang disewa untuk dipulangkan ke Indonesia.
sumber: Tempointeraktif.com

Algojo penumpas PKI yang Meringkuk Dalam Pasungan 38 Tahun

TULUNGAGUNG - Pada era sejarah kelam G30 S PKI, Supardi alias Adi (66), seorang tokoh masyarakat yang disegani. Adi dikenal sebagai algojo penumpas yang tegas. Pasca sejarah, ia mengalami goncangan jiwa. Tabiatnya yang dianggap berbahaya yang membuatnya terpaksa meringkuk di dalam pasungan selama 38 tahun.

Kata Kusnoto (46), sahabatnya, Adi, tidak semata-mata mengidap penyakit Malaria. Bukan karena virus gigitan nyamuk anopheles yang membuatnya menjadi beringas. Kontaminasi virus yang dibawa darah untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh tentu tidak akan membuat warga Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu seperti kehilangan akal.

Adi mudah mengamuk. Sosok yang dulunya dikenal sebagai pemimpin sebuah organisasi masyarakat yang disegani itu seperti putus kendali. Tak jelas apa yang menjadi gerundelan hatinya, setiap meradang siapapun bisa menjadi tumpahan murkanya.

"Karena badannya yang tinggi besar dan dikhawatirkan membahayakan orang lain, kerabat dan teman memutuskan untuk dipasung," tuturnya kepada wartawan.

Adi kini berada di sebuah gubuk kecil. "Rumah barunya" itu� tak jauh di belakang rumah yang ditempati keluarganya. Bangunan itu hanya berupa empat tiang kayu, dengan selembar terpal yang sudah menutupinya. Terpal yang berfungsi sebagai atap pelindung panas dan hujan itu terlihat begitu usang.

Beberapa bagian di antaranya bahkan sudah sobek, berkibar-kibar setiap kali angin berhembus. Pihak keluarga sengaja menempatkan Adi di sana. Sengaja disembunyikan agar orang lain yang bertandang tidak mudah mengetahuinya. "Tentunya penyakit seperti ini ini sama dengan aib, "terang Kusnoto.

Kondisi Adi lebih tepat disebut tragis daripada memprihatinkan. Tragis, karena sebagai salah satu tokoh yang pernah� memimpin penumpasan� pemberontakan G 30 S PKI 1965, Adi kini� tak ubahnya seorang pesakitan. Sebuah rantai besi membelenggu pergelangan sebelah kakinya kuat-kuat. Begitu eratnya ikatan sampai-sampai bentuk rantai membekas merah di permukaan kulit.

Sementara ujung rantai yang lain terikat tak kalah lekat pada pasak besi yang tertanam di lantai gubuk. Panjang rantai sebesar ibu jari itu sekitar 5 meter. Praktis gerak hidup Adi hanya sebatas panjang rantai tersebut. Meski dalam keadaan terbelenggu, dia masih bisa merebus air untuk membuat kopi bagi dirinya sendiri. "Sebelumnya ia sempat juga dipasung. Namun karena pasung itu membuatnya rebah tak berdaya maka� diganti dengan rantai besi, "terang Kusnoto yang juga tetangga Adi.

Perubahan pada jiwa Adi terjadi paska tragedi kemanusiaan Gestapu. Usai menjalankan tugas sebagai algojo pelenyap� kehidupan orang-orang yang dianggap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), Adi merantau ke Palembang Sumatera Selatan. Bersama beberapa rekan yang juga berasal dari satu desa, ia membuka hutan.

Hampir seluruh pepohonan yang berada pada jarak pandangnya ia tebangi. Ia bersihkan semak, onak dan duri yang dianggap menghalangi. Adi tengah menyiapkan lahan yang luas untuk� perkebunan kopi. Rencananya ia akan menetap disana sebagai pengusaha kopi. "7 tahun kami hidup bersama di Palembang, "paparnya.

Gejala aneh mulai terlihat ketika Adi mengeluh jika dirinya selalu diikuti bulan. Kemanapun dia pergi, satelit bumi itu selalu mengikuti langkahnya. "Itu yang membuatnya gelisah dan selalu mondar mandir setiap malam. Katanya dia tengah menghindari bulan yang terus mengikutinya, "terang Kusnoto.

Pada saat bersamaan malaria tropis menyerang. Selain Adi,� dua orang rekannya yang ikut membabat hutan juga menderita penyakit yang sama. Satu orang meninggal dunia, dan satu orang lainya tidak diketahui rimbanya. Namun sebelum hilang, warga Desa Podorejo ini juga dianggap tidak waras.

Menurut Mansyur, keponakan Adi, pamanya langsung dibawa pulang ke kampung halaman, begitu mendengar� mengalami sakit di tanah perantauan. "Dibawa pulang sekitar tahun 1973. Pada saat pertama, emosinya tidak terkendali. Selain ngoceh sendiri, masih sering mengamuk, "ujarnya.

Hingga saat ini, praktis sudah 38 tahun Adi hidup dalam pasungan. Kondisi ekonomi yang terbatas yang membuat keluarga tidak mampu menempuh cara-cara medis. "Karenanya yang kita butuhkan hanya uluran tangan dari pemerintah, "pungkasnya.

Informasi yang dihimpun, di wilayah Kabupaten Tulungagung sendiri sedikitnya ada enam kasus pemasungan karena alasan sakit jiwa. Di antaranya seorang warga Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat. Kemudian dua orang warga Desa Panggungkalak, Kecamatan Pucanglaban, dan� dua kakak beradik warga Desa Bendilwungu, Kecamatan Sumbergempol.

Kepala Seksi Sosial, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tulungagung, Amir Bhakti mengatakan, dari sebagian besar kasus yang ada rata-rata ditemukan dalam keadaan yang sudah� sangat parah.

"Keluarga sudah berusaha melakukan upaya pengobatan, namun karena tidak membawa hasil, pilihanya dipasung dengan tujuan tidak membahayakan keluarga dan lingkungan," ujarnya.

Dalam hal ini menurut Amir, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, mengingat secara medis mereka sulit untuk disembuhkan. "Artinya kami pun juga tidak bisa membantu memberikan penanganan secara maksimal," pungkasnya.
Sumber okezone.com

Jet Tempur TNI Bakal Akrobat Di Istana

JAKARTA� Sejumlah pesawat tempur TNI AU disiapkan di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma sejak Jumat (12/8/2011) untuk memeriahkan upacara HUT Ke-66 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pesawat-pesawat tempur tersebut akan melakukan terbang lintas (fly pass) di atas Istana Negara pada peringatan Proklamasi 17 Agustus mendatang.

Dalam keterangan pers Lanud Halim PK disebutkan, satu flight (empat unit) F-16 Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, Madiun, dan satu flight jet tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin, Makassar, yang masing-masing di bawah kendali Komandan Skadron 3 Letkol (Pnb) Ian Fuadi dan Komandan Skadron 11 Letkol (Pnb) M. Untung Suropati tiba di Halim PK Jumat siang.

Total disiapkan delapan pesawat tempur untuk memeriahkan HUT Ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI.

Kepala Penerangan Lanud Halim PK Mayor (Sus) Gerardus Maliti yang dihubungi mengatakan, para penerbang berlatih untuk menampilkan fly pass di Istana Negara.

"Ada atraksi akrobatik dari para penerbang tempur kita. Mereka terus berlatih untuk tampil pada peringatan Proklamasi," kata Maliti.

Adapun pesawat tempur Sukhoi memiliki keistimewaan sebagai satu-satunya jet tempur yang mampu melakukan manuver Kobra. Manuver tersebut meniru gerakan kepala ular kobra yang berdiri tegak, memagut, lalu turun.
Sumber Kompas.com

Iran Siap Kirim Pasukan Perdamaian ke London

TEHERAN - Komandan militer Basij di Iran Mohammad Reza Naghdi menyatakan, Batalyon Ashura dan Al Zahar siap dikirim ke London sebagai pasukan perdamaian untuk menciptakan ketenangan di kota tersebut.

"Banyak kekecewaan atas perlakuan brutal dan kriminal dari Kerajaan Inggris yang zalim," ujar Naghdi, seperti dikutip IRNA, Jumat (12/8/2011).

Di mata Iran, polisi Inggris tidak dapat menyelidiki pelaku dan menangkap siapa pun yang mereka anggap sebagai aktor kunci kerusuhan, meskipun sekira 1,6 juta kamera CCTV yang tersebar diInggris.

Bila PBB meratifikasi pengiriman batalyon dari Iran sebagai pasukan perdamaian, pasukan ini siap dikirim sebagai pembela HAM di Inggris yang akan ditempatkan di Kota London, Liverpool, dan Birmingham.

Naghdi juga menambahkan, sejarah Kerajaan Inggris penuh dengan peristiwa kejahatan seperti kolonialisme, agresi militer, pembantaian dan tindakan jahat lainnya yang menyebabkan tewasnya jutaan warga.

Presiden Iran sebelumnya juga sudah melontarkan kecaman terhadap tragedi di Inggris ini. PBB juga didesak untuk turun tangan dalam kasus kerusuhan yang disebabkan oleh penembakan warga kulit hitam Inggris ini.

Libya pun ikut berkomentar dalam kerusuhan Inggris. Pemimpin Libya Moammar Khadafi bahkan menyarankan Perdana Menteri Inggris agar turun dari jabatannya karena dirinya dianggap tidak pantas lagi mengurus warganya
Sumber : Okezone.com